Poso,Bongkarsulteng.my.id - Dalam pernyataannya, Jusuf Kalla (JK) menyinggung istilah “mati syahid” yang disebut muncul dari keyakinan masing-masing pihak saat konflik berlangsung.
Ucapan tersebut langsung menuai reaksi keras, khususnya dari sebagian kalangan Kristen yang menilai narasi itu tidak tepat dan berpotensi menyinggung ajaran iman.
Gelombang kritik pun bermunculan di media sosial hingga mendorong sejumlah pihak melayangkan protes. Mereka menilai pernyataan tersebut seolah menyamakan perspektif teologis dalam konflik yang sensitif dan penuh luka sejarah.
Di tengah situasi yang memanas, Rinaldi Damanik sempat tampil memberikan klarifikasi. Ia menyebut bahwa pernyataan JK tidak bisa ditarik ke ranah doktrin agama, melainkan harus dipahami sebagai gambaran realitas di lapangan saat konflik terjadi. Menurutnya, istilah tersebut mencerminkan persepsi para pelaku konflik, bukan ajaran resmi dari agama mana pun.
Namun perkembangan terbaru justru menambah tanda tanya. Saat dikonfirmasi lebih lanjut oleh BongkarSulteng terkait polemik yang terus bergulir, Damanik memilih bungkam tanpa memberikan keterangan tambahan. Sikap diam ini memicu spekulasi di publik—mulai dari dugaan kehati-hatian hingga tekanan situasi yang semakin sensitif.
Perdebatan pun kian melebar. Sebagian pihak mendesak klarifikasi lebih lanjut agar tidak terjadi kesalahpahaman antarumat beragama, sementara lainnya menilai pernyataan JK perlu dilihat secara utuh sebagai bagian dari upaya menjelaskan dinamika konflik masa lalu.
Damanik yang berusaha dikonfirmasi media hingga hari ini Senin, (27/4/26) memilih bungkam. Meski demikian dari akun Fbnya terpantau Damanik seolah meminta maaf yang ditampilkannya dalam bentuk gambar sedang bersujud seakan-akan meminta maaf disertai caption yang tidak bisa ditangkap apa maksud dan tujuannya.

إرسال تعليق