Jalan Pape–Tomata Amburadul Program Berani Lancar Dipertanyakan Ini Proyek Rakyat atau Jatah Ordal?

 
POSO | Bongkarsulteng.my.id —
Program unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Berani Lancar, kembali menuai sorotan tajam. 

Pasalnya jalan Pape–Tomata di Kabupaten Poso yang baru saja selesai dikerjaka saat ini sudah menunjukkan kerusakan serius.

Sebelumnya oleh Gubernur Sulteng, proyek ini digadang-gadang sebagai bagian dari program strategis pembenahan infrastruktur jalan desa dan wilayah terpencil. 

Namun sayang fakta di lapangan berbicara lain narasi yang dibangun pemerintah provinsi berbanding terbalik.

Aspal Baru, Rusak Duluan

Pantauan media ini langsung di lapangan, Minggu (18/1/26) permukaan jalan antara Pape menuju Tomata itu sudah mengalami retak-retak, aspalnya mengelupas di beberapa titik bergelombang. Parahnya lagi, jalan yang berusaha ditambalpun dikerja seadanya sehingga tidak rata dan membahayakan para pelintas. 

Kondisi ini tak ayal menimbulkan sebuah pertanyaan besar tentang kualitas pengerjaan dan pengawasan teknis.

“Baru selesai sudah begini, bagaimana dua atau tiga tahun ke depan?” keluh warga setempat
Nilai Proyek Miliaran Rupiah Menguap Sia-Sia
Informasi yang dihimpun media ini proyek peningkatan jalan Pape–Tomata–Amboradul menelan anggaran sekitar Rp9,4 miliar yang di ambil dari APBD Provinsi Sulawesi Tengah Tahun Anggaran 2025 dan dikerjakan oleh PT Baru Berkarya Sejahtera.

Namun, besarnya anggaran tidak sejalan dengan mutu hasil pekerjaan. Publik pun mulai bertanya: di mana fungsi pengawasan?

Dugaan “Jatah Proyek Ordal” Mencuat

Seiring berjalannya waktu rusaknya jalan yang baru di bangun tersebut akhirnya menimbulkan emosi warga apalagi yang tinggal di wilayah proyek.

Proyek tersebut di duga sarat kepentingan orang dalam (ordal). Proses penunjukan penyedia jasa disebut-sebut minim transparansi, sehingga memicu kecurigaan adanya praktik favoritisme dalam pelaksanaan Program Berani Lancar.

Istilah “jatah proyek” akhirnya ramai diperbincangkan di tengah masyarakat, terutama karena hasil pekerjaan jauh dari kata layak, sementara kontrak proyek sudah dinyatakan selesai 100 persen.

Pemerintah Klaim Sesuai Kontrak

Dikutip dari Portalsulawesi.id, Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tengah menyatakan, proyek tersebut telah melalui proses PHO (Provisional Hand Over) dan dinyatakan selesai sesuai kontrak.

Namun hingga kini, belum ada penjelasan terbuka terkait penyebab kerusakan dini maupun hasil uji mutu material dan ketebalan aspal.

Ujian Serius Program Berani Lancar

Kasus ini menjadi ujian serius bagi kredibilitas Program Berani Lancar. Jika proyek-proyek yang mengatasnamakan kepentingan rakyat justru menghasilkan infrastruktur bermutu rendah, maka program ini berpotensi berubah menjadi simbol kegagalan kebijakan.

Masyarakat mendesak agar:
Dilakukan audit teknis independen
Dibuka secara transparan dokumen kontrak dan spesifikasi teknis
Aparat pengawas internal dan eksternal turun tangan.

Jika tidak, kekhawatiran publik bahwa Program Berani Lancar hanya menjadi ladang proyek segelintir elit akan semakin menguat.

Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1
Post ADS 1