Poso, Bongkarsulteng.my.id – Krisis air bersih di Dusun Poleganyara, Kecamatan Pamona Timur, menjadi momok baru dan perbincangan warga.

Sejak sumber air dari Mara yang awalnya digunakan warga digabungkan dengan genangan di hulu Sungai Tancueni, kondisi air langsung berubah drastis: keruh, berlumpur, dan dipenuhi sipu. (indikasi kuat lingkungan yang berpotensi menjadi sarang penyakit yang bisa membahayakan warga).

Saat ini warga mulai resah dan takut. Air yang dulunya layak konsumsi saat ini diduga sudah terkontaminasi dengan organisme yang bisa membawa penyakit serius. 

Yang paling dikhawatirkan adalah Schistosomiasis atau penyakit keong, penyakit yang dikenal berkembang melalui siput air tawar sebagai inang perantara.

“Sekarang bukan cuma kotor, tapi kami takut sakit. Ada siput di air, itu sangat berbahaya,” ungkap warga dengan nada cemas.

Kekhawatiran ini beralasan. Lingkungan air tergenang, berlumpur, dan kaya organisme seperti siput merupakan kondisi ideal berkembangnya parasit penyebab schistosomiasis maupun penyakit kulit dan pencernaan lainnya. Jika dibiarkan, warga berisiko mengalami gejala mulai dari gatal-gatal, diare, hingga gangguan organ dalam.

Ironisnya, kondisi ini terjadi setelah kebijakan penggabungan sumber air yang sejak awal telah ditolak warga. Pj Kepala Desa Poleganyara, Handri Tumonggi, tetap menjalankan kebijakan tersebut meski menuai protes keras. Kini dampaknya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kepala Puskesmas Zet Ranteala yang dikonfirmasi media ini, Minggu (22/3/25), mengakui adanya potensi risiko kesehatan, untuk itu pihaknya akan segera turun melakukan pemeriksaan. 



Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1
Post ADS 1